Showing posts with label lingkungan. Show all posts
Showing posts with label lingkungan. Show all posts

30 October 2024

Mobil Terhebat dan Terlangka Di Dunia Tahun 2006

 1. KIA Picanto

Mobil yang hanya dimiliki oleh beberapa orang di dunia ini, merupakan jenis city car terlangka yang ada di muka bumi. Mobil dengan 4 silinder 1000 cc irit namun memiliki kemampuan yang optimal ini sangat diincar oleh kalangan kolektor mobil dunia. Mobil ini terkahir tampak dimiliki oleh seseorang yang berada di Pontianak.

2. Honda Civic 2.0 terpilih sebagai best of the best IMMS 2006. Dengan didukung stan yang mewah, kehadiran civic 2.0 sangat terasa membangun suasana.Beberapa pengunjung harus menjulurkan tangannya untuk sejenak menyentuh mobil yang berputar dalam stage khusus itu.

3. Toyota Yaris Superman. Mobil jenis MPV ini meraih penghargaan mobil paling favorit versi pengunjung."Terlihat modis dan enerjik,".Dengan dukungan replika mobil balap Formula 1, Toyota berhasil membuat sebagian pengunjung berfoto di stannya

4. Mercedes-Benz S350L. 

5. Sedangkan untuk non-sedan adalah Audi A4 Avant 1.8 T.



01 May 2016

Arti CO2 Removal



Carbon dioxide removal (CDR)

merupakan metode mengacu pada sejumlah teknologi yang mengurangi kadar karbon dioksida di atmosfer. Di antara teknologi seperti bio-energi dengan penangkapan dan penyimpanan karbon, biochar, penangkapan udara langsung, pemupukan laut dan ditingkatkan pelapukan. CDR adalah pendekatan yang berbeda dari menghilangkan CO2 dari emisi tumpukan sumber titik bakar fosil besar, seperti pembangkit listrik. Yang terakhir mengurangi emisi ke atmosfer tetapi tidak dapat mengurangi jumlah karbon dioksida yang sudah di atmosfer. Sebagai CDR menghilangkan karbon dioksida dari atmosfer, itu menciptakan emisi negatif, mengimbangi emisi dari sumber titik kecil dan tersebar seperti sistem pemanasan domestik, pesawat terbang dan knalpot kendaraan. Hal ini dianggap oleh sebagian orang sebagai bentuk rekayasa iklim , sementara pengamat lain menggambarkannya sebagai bentuk penangkapan dan penyimpanan karbon atau mitigasi ekstrim. Apakah CDR akan memenuhi definisi umum dari "rekayasa iklim" atau "geoengineering" biasanya tergantung pada skala yang akan dilakukan. (Wikipedia)

Arti Limestone



Limestone atau batugamping merupakan batuan sedimen karbonat yang terbentuk dari sedimentasi hewan dan tumbuhan karang. Kenampakan struktur luar batuan ini berwarna putih kotor, putih keabu-abuan, sampai kuning keabu-abuan. Untuk limestone yang masih muda sering dijumpai struktur fosil hewan atau tumbuhan karang (coral) karena proses litifikasi (pembatuan) yang belum sempurna. Meski secara genesa terbentuk dari laut, namun karena proses pergerakan kulit bumi, sering dijumpai endapan limestone yang sudah berjarak puluhan kilometer dari pantai. Berat jenis limestone insitu (bank) berkisar antara 2.2 – 2.4 ton/bcm, sedangkan berat jenis loose berkisar antara 1.5 – 1.8 ton/lcm. Rumus kimia limestone adalah CaCO3. Untuk usaha pertambangan, limestone merupakan salah satu bahan galian industri yang mempunyai potensi yang sangat besar di Indonesia. Cadangan total limestone di seluruh Indonesia diperkirakan lebih dari 28 milyar ton yang penyebarannya hampir di seluruh wilayah Indonesia. Berdasarkan klasifikasi bahan galian, limestone tergolong ke dalam Bahan Galian C (Bahan Galian Industri).

Paling tidak, ada 4 bidang usaha yang secara langsung memanfaatkan berbagai keunggulan dari sifat fisik dan kimia limestone, yaitu pertanian, konstruksi, industri, dan lingkungan. Dalam bidang konstruksi, peran limestone sebagai bahan utama untuk pembuatan semen tentunya juga sangat besar. Dalam tulisan ini dikhususkan akan memperdalam limestone dalam kaitannya untuk mendukung industri semen, terutama dalam hal penambangannya dengan menggunakan alat-alat berat. Namun pembahasan nantinya hanya akan dibatasi pada alat berat untuk quarry saja. Tidak dibahas untuk plant, packing, dan marketing.

Energi Biomassa Dari Residu Hutan

Biomass adalah bahan yang berasal dari makhluk hidup, termasuk tanaman, hewan dan mikroba.  Penelitian mengenai nilai tambah yang dapat dieksplorasi dari biomass banyak dilakukan dekade terakhir ini, terutama  bila dikaitkan dengan hajat hidup utama manusia yang menyangkut pada kebutuhan energi dan bahan lain yang selama ini didapat dari sumber yang tidak dapat diperbaharui.  Menjadikan biomass sebagai sumber untuk memenuhi kebutuhan tersebut menjadi menarik, sebab biomass merupakan bahan yang dapat diperbaharui, meliputi pohon, tumbuhan, tanaman produksi dan residunya, serat-serat tanaman, limbah hewan, limbah industri dan limbah-limbah lain yang berupa bahan organik.  Pada tulisan ini biomass difokuskan pada bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan atau bahan berlignoselulosa.  Lignoselulosa adalah bagian-bagian struktural utama dari tumbuhan, merupakan campuran yang kompleks dari selulosa, hemiselulosa, lignin, dan ekstraktif.  Selain bahan-bahan tersebut biomass juga mengandung protein, abu dan bahan-bahan lain dalam jumlah yang sedikit.
Sumber biomass di Indonesia sebagian besar berasal dari produk yang dikeluarkan oleh hutan (kayu).  Hampir semua lahan di Indonesia pada awalnya merupakan hutan alam yang secara berangsur dialih-fungsikan oleh manusia menjadi berbagai bentuk penggunaan lahan lain, seperti pemukiman dan pekarangan, pertanian, kebun dan perkebunan, hutan produksi atau tanaman industri, dan lain-lainnya.  Sejalan dengan perkembangan industri dan kebutuhan manusia, hutan di Indonesia semakin lama berkurang luasnya.  Penggunaan hutan alam untuk kebutuhan industri ikut andil dalam pemanasan global yang melanda dunia.
banyak orang dan ahli yang mengatakan bahwa membakar kayu untuk biomassa melepaskan karbon ke lingkungan. Memang benar bahwa karbon berbahaya bagi kita, tetapi tidak ada hubungannya dengan biomassa. Pertama, telah diverifikasi dan dibuktikan oleh banyak organisasi ilmiah bahwa membakar kayu untuk biomassa tidak memiliki dampak pada peningkatan jumlah karbon di lingkungan. Hal ini karena karbon yang dihasilkan dari pembakaran kayu berasal dari atmosfer dan hanya karbon yang berasal dari bawah tanah (dalam hal bahan bakar fosil) yang akan berdampak pada pencemaran lingkungan.
Biasanya, energi biomassa dihasilkan dari pembakaran residu hutan dan limbah kayu menggunakan tungku pembakar. Di dalam tungku, panas hasil pembakaran ini dihasilkan dan panas ini dapat digunakan untuk dikonversi ke listrik. Residu hutan sangat baik sebagai bahan bakar biomassa karena mengandung karbon yang diserap hanya dari atmosfer.

Karbon ini disimpan dalam cabang dan daun pohon. Dengan demikian, residu hutan yang dibakar tidak akan meningkatkan tingkat karbon berbahaya di atmosfer. Biomassa juga tidak menghasilkan gas metana yang berbahaya, gas tersebut akan teroksidasi selama proses produkis energi. Jadi, membakar residu hutan untuk biomassa tidak ada salahnya baagi planet kita.
Hutan sebagai sumber biomass memang dapat diperbaharui.  Namun waktu yang dibutuhkan untuk memperbaharui hutan tidaklah sebentar.  Jasa dan fungsi hutan yang disediakannya untuk lingkungan klimaksnya tercapai setelah puluhan bahkan ratusan tahun.  Untuk itu perlu dicari alternatif lain sebagai pengganti sumber biomass yang bukan berasal dari hutan.  Sumber biomass alternatif yang dapat dipertimbangkan sebagai pengganti biomass yang berasal dari hutan adalah residu hasil pertanian dan perkebunan atau residu hasil prosesing biomass.  Semua proses yang melibatkan biomas sebagai bahan bakunya akan menghasilkan produk samping dan limbah cair yang disebut residu, yang mempunyai potensi besar untuk dimanfaatkan.  Tidak semua residu hasil proses biomass dapat dimanfaatkan.  Beberapa di antaranya harus melalui proses lebih lanjut sebelum dapat dimanfaatkan secara langsung.  Beberapa residu potensial hasil proses biomass adalah : (REPP, 2006):
  1. Residu dari industri pulp dan kertas. Residu dari industri pulp dan kertas berupa sawdust, kulit kayu, ranting, atau potongan kayu atau pulp yang tersisa.  Biasanya pabrik pulp dan kertas menggunakan residu tersebut sebagai bahan baku pembangkit energi. 
  2. Residu hasil hutan. Meliputi kayu hasil industri berbasis kayu (logging),   yang tidak terjual (nilai komersialnya rendah). 
  3. Residu hasil pertanian atau pemanenan. Meliputi biomass yang ditinggalkan setelah memanen produk utamanya. Misalnya jerami padi, sisa-sisa batang jagung, ampas tebu, dedak, tandan kosong sawit, serat perasan buah, cangkang, sabut kelapa, batok kelapa, tongkol jagung dan lain sebagainya.

Emisi Gas Rumah Kaca






Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktivitas manusia.
Gas rumah kaca yang paling banyak adalah uap air yang mencapai atmosfer akibat penguapan air dari laut, danau dan sungai. Karbondioksida adalah gas terbanyak kedua. Ia timbul dari berbagai proses alami seperti: letusan vulkanik; pernapasan hewan dan manusia (yang menghirup oksigen dan menghembuskan karbondioksida); dan pembakaran material organik (seperti tumbuhan).
Karbondioksida dapat berkurang karena terserap oleh lautan dan diserap tanaman untuk digunakan dalam proses fotosintesis. Fotosintesis memecah karbondioksida dan melepaskan oksigen ke atmosfer serta mengambil atom karbonnya.

Menurut VIVAnews : Perubahan iklim yang terjadi di dunia diakibatkan oleh adanya emisi gas rumah kaca. Khusus untuk Indonesia, alih fungsi hutan dan manajemen lahan gambut berkontribusi paling besar bagi emisi gas rumah kaca.

Hal itu disampaikan Amanda Katili Niode, Koordinator Komunikasi, Informasi dan Pendidikan Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) dalam diskusi perubahan iklim, Jumat 18 Oktober 2013.
"Kedua hal itu berkontribusi paling besar di sini, beda dengan emisi di AS (Amerika Serikat) yang paling banyak dari industri dan energi," jelas Amanda ditemui di @america, Pacific Place, Jakarta. Dua jenis penyebab emisi itu diperkirakan menjadi faktor dominan hingga 2020.
Dia merinci, kontribusi alih hutan terhadap emisi gas rumah kaca yaitu 48 persen, kemudian diikuti energi (20 persen), pembakaran gambut (13 persen), sampah (11 persen), agrikultur (5 persen), dan industrial (3 persen).
DNPI, menurut Amanda, telah menetapkan rencana aksi pengurangan emisi gas rumah kaca secara bertahap hingga 2020. Menurut prediksi institusinya, emisi di Indonesia akan meningkat menjadi 2,95 Giga ton CO2e pada 2020 mendatang.
DNPI berupaya mengurangi 0,767 Giga ton CO2e atau 26 persen dari estimasi total emisi 2020. Selanjutnya, akan mengurangi emisi 0,422 Giga ton CO2e atau 15 persen total emisi.
"Rencana penurunan emisi ini menyangkut lintas kementerian. Dan, saat ini sudah kami lihat ada penurunan emisi," tambah dia.
Ia mengakui koordinasi antar lembaga pemerintah untuk perubahan iklim perlu digenjot lagi.
"Tapi, saat ini sudah lumayan. Anda bisa lihat 5 tahun lalu kan belum begitu gencar pembicaraan soal perubahan iklim," katanya.
Amanda menambahkan, semua pihak bisa turut berkontribusi mencegah dampak buruk perubahan iklim. Ia mencontohkan, di Jakarta banyak tumbuh komunitas yang bisa melakukan berbagai hal. Misalnya, penghijauan di daerah masing-masing.
"Kan tidak semua orang berperan dalam kebijakan saja. Upaya lain bisa kirim tweet ke Presiden," katanya. Menurut dia, pemerintah Indonesia sangat peduli untuk menindaklanjuti berbagai hal yang menyangkut perubahan iklim.
Pada prinsipnya, Amanda berpesan, penanganan dampak perubahan iklim juga dapat dilakukan individu maupun komunitas.